The Egaliter’s Journal

Pecel Lele Rp 160.000 dan Sate Ayam Rp 90.000!

Posted by: Riska Mirzalina on: April 2, 2008

Gw mulai sibuk dengan aktivitas interview kira-kira pada bulan April 2006. Brian, hostfater gw malah yang kelihatan sangat semangat (serasa dia yang mau di interview). Brian mengatur semua perjalanan, termasuk tiket pesawat, kereta, sampai tempat menginap. Semuanya dia sesuaikan dengan jadwal interview gw di empat college dan universitas. Rute perjalanan kita adalaha Alexandria (VA), Baltimore (MA), Philadelpia, Swarthmore, Haverford, dan Meadville (PA), dan New York (NY). Bayangkan berapa ribu dollar udah Brian keluarin demi interview yang belum tentu membuat gw akan diterima di salah satu universitas atau college.

Spring 2006

Buenos Noche!

Por proxima semana, yo voy a tener interview con tres universidad..estoy timido..

Yes, gw bakal ngadepin interview sama 4 universitas: Swarthmore, Haverford, Alleghany and Johns Hopkins. Kebayang gak sih, gw bakalan nervous abiss.

Gw masih belum tau gw bakalan ditanya apaan, yang jelas pede ajah. Sebenernya gw applied ke 11 universitsa, tapi yang keterima cuma 4

Doain yahh, semoga baek-baek aja

Chao-

It’s JohnHops time

John Hopkins University. Ini adalah universitas pertama dimana gw tes interview. Ya pasti lah deg-degan! Gw pikir bakal susah; taunya gampang–malah gw nggak bisa berhenti nyerocos. Salah satu yang bikin gw tertarik sama Johns Hopkins adalah program SAIS (nggak yakin kepanjangannya apa) tapi yang jelas ini adalah program 5 tahun kuliah yang pas lulus dapet gelar master–cuma untuk international relations–What a deal!

Gw juga visited class: Interpersonal Relations, gw pikir bakal belajar yang rada-rada berbau bisnis dan PR, taunya belajar gimana hubungan 2 orang dalam rumah tangga–Waduh–nggak papa deh namanya juga “visit”

Phillys, National Treasure

Welcome to Philadelpia. Gw cinta banget sama ini kota–gila bener-bener tempat buat belajar history (satu lagi D.C). Hari Senin malem (10 April) gw nginep di hotel downtown Phillys. Pagi2nya gw cabut ke Swarthmore naek kereta: ini dia yang bikin gw cinta sama kota-kota gede di East Coast: Train systemnya keren banget! bener-bener accessible.

Interview di Swarthmore college agak susah daripada Johns Hopkins–masalahnya gw interview langsung sama International Student Recruitment. Gw suka banget sama Swarthmore: Small-Strong Liberal Arts College, 20 menit dari Phillys, kampusnya nyaman abis dan nggak overwhelming, intense dan intelectual athmospherenya kerasaaaa banget, profesor disana bener-bener ada buat ngajar, dan full-year dorms.

Abis dari Swarthmore gw cabs ke Haverford. Generally gw juga suka sama kampus ini–cuma yang bikin gw kecewa gw cuma dikasih interviewer yang basically -know-nothing student-bahasa yg dia kuasain masak cuma English. Bukanya mau jadi seorang yang “Jerk”; tapi sebagai mahasiswa Political Science dan U know foreign language is significant.

United Nation is Just in front of my eyes

WUAHHHHHHHH! Gila! Gw nggak pernah nyangka kalo gw bisa pergi langsung ke dalem gedung PBB. Gw masuk ke Security Council Building, General Assembly building. etc.. No Word, but INcreDible! gw juga dah cari-cari tau tetang Model UN. Gw pengen banget kerja buat UN. Obsess of UN!

Cerita di atas gw tulis dalam perjalanan, makanya ceritanya singkat-singkat abis. Padahal masih banyak dalam ingatan gw yang mestinya bisa dideskripsikan.

Tempat singgah pertama gw adalah Alexandria, VA. Kita bermalam di rumah kakaknya Brian, Mary Jane. Mary Jane dan suaminya, Don sangat atraktif banget, aplagi kalau lagi cerita. Malemnya kita makan es krim di kota dan diajak berkeliling melihat bangunan jaman Benjamin Franklin dan Lincoln di era pembentukan negara-negara bagian. Bangunan-bangunanya ada unsur Yunaninya-mungkin karena Franklin sangat mencintai demokrasi dan Yunani adalah negara polis demokrasi pertama. Walaupun sudah berumur belasan abad, bangunanya tetap terwat dan bersih. Jadi sedih kalau inget museum Sunda Kelapa yang kumuh banget karena nggak ada insentif dari pemerintah untuk ngerawatnya. Di malam hari juga banyak kelompok-kelompok tur yang lagi liat-liat museumnya. Serasa lagi di film national treasure.

Paginya kita naik kereta Acela ke Baltimore. Kereta Acela ini adalah kereta tercepat yang menghubungkan jalur east coast- Boston to South Carolina. Sesampainya di Baltimore, sambil menggiring koper, kita langsung pergi ke John Hopkins universities. John Hopkins buat gw agak membosankan saat itu, mungkin karena gw pake baju batik yang bikin gerah plus kurang ramahnya admission kepada para kelompok yang mau di interview. Mungkin karena John Hopkins adalah universitas besar, jadi ya agak-agak biasa aja menangani calon mahasiswanya. Gw masih inget pertanyaan, “what is your favorite book?” dan jawaban gw, “I like To Kill A Mocking Bird, The Great Gatzby, and Life of Pie”, padahal gw belum pernah baca Life of Pie (udah dibeli sih bukunya tapi ketinggalan di SMP gw dan nggak pernah gw ambil-ambil sampe sekarang).

Next destination gw adalah Philadelpia. Tons of stuff here. Gw nginep di hotel deket downtown. Jalan kaki dari stasiun (stasiunnya kaya’ stasiun di New York di film GossipGirl). Brian bilang hotelnya deket, taunya jauh banget, malah bawa-bawa koper lagi. Di tengah city hall, ada banyak patung-patung sejarah civil war, gedung konstitusi, dan The Great Bell sejak tahun 1600-an. Tapi yang paling seru adalah dikibarkannya bendera-bendera dari seluruh dunia di sepanjang jalan. Brian sibuk nyariin bendera Swaziland, yang katanya favoritya (menurut gw sih warnanya gak nabrak) sementara gw sibuk nyariin sang merah putih yang simple banget tapi NGGAK ADA! Huh, mungkin bendera Indonesia dipajang di paling ujung jalan kali yah. Kita sempet jalan ke chinatown dan makan di restoran Malaysia, Penang. Tapi gw kaget banget waktu liat menunya yang jelas-jelas makanan Indonesia: “Rendang, Balado, Opor”. Tulisannya sama lagi. Waduh ternyata makanan kita juga dijiplak di luar negeri oleh pelaku yang sama. Setelah makan kita jalan menuju hotel, dan JRENG, persis beberapa blok ada restoran Indonesia dengan nama yang sama, Restoran Indonesia. Yahh tau gitu gw makan disini deh.

Besok paginya gw dan Brian buru-buru ke Swarthmore, suburb Phillys yang ternyata nyaman dan sejuk banget, cuma ud10 menit dari stasiun Phillys. Gw menghabiskan kira-kira 1 jam bareng Stacey Kutish, International Student Affair yang nginterview gw. Swarthmore College’s people were so nice; maybe it is because its small number of student, intense, but not overwhelming. Dari situ gw langsung ke Haverford College, di Haverford, beberapa menit dari stasiun Swarthmore. Gw suka Haverford, but not as much as I love Swarthmore. Haverford itu kayak second choice, students di sana juga suka got drunk on parties. Yang unik dari Haverford adalah Honor Codenya dan Unproctor Test (wah mau dong ngerjain ulangan nggak diawasin). Sorenya gw langsung balik ke Philadelpia dan dengan senang hati menerima tawaran Brian untuk makan di Restoran Indonesia tadi! Tapi gw kecewa dengan harga menunya yang kelewatan. Gw pengen banget makan pecel lele, tapi harganya $17 alias sekita Rp 160.000!! Dengan berat hati gw berpindah makan sate yang sepuluh tusuk harganya $10, atau Rp 90.000. Buset! Nangkep dulu kali ya lele dan ayamnya. Walaupun gw tau Brian agak kaget dengan harganya, tapi dia tetep ngebeliin gw satu kaleng sambel terasi. Wuenakk Tenan, kangen banget sama sambel ini.

Ini dia cerita aneh tapi kocak. Karena gw masih penasaran sama wilayah Chinatown, malemnya sekitar pukul 9 PM gw keluar sendirian. Di perempatan jalan gw ngeliat beberapa orang “hobos”, atau crazy tunawisma yang lagi duduk-duduk. Tiba-tiba mereka berteriak-teriak ke gw, “Ni Hao! Ni Hao! Chinese girl!”. Enak aja, emang lo kate gw orang Cina. Tapi di Amrik sana hampir semua orang Asia di generalisasi sebagai Chinese atau Filipino.

Besok paginya gw pergi lagi ke SWARTHMORE College! I think I fall in love with swarthmore. Gw pergi sendirian loh naik kereta. Di sana gw ikut class visit lagi, tidur siang di lapangannya, dan numpang duduk di Giant Chair nya (kursi yang gedenya sekitar 10-15 x kursi biasa). Kebetulan di sana ada book for free di perpusnya, ya gw bawa deh 4 buku tebel-tebel, walaupun boring yang penting gratis, hehe. Terus gw makan di restoran China yang nggak welcomed abis. Gw agak kaget karena tiba-tibe Brian ngejemput gw di Swarthmore dengan mobil Rolls Royce sewaannya! dan Brian masih bilang, “I am sorry I only could get this car for you”. Geez, ini lebih dari cukup. Ternyata kita bakal pergi ke Alleghanny College, di ujung Pennsylvania dengan Rolls Royce!

Ternyata Alleghany college itu terletak di Meadville, kota kecil di ujung Penssylvania. Lebih deket ke Denver daripada Philis-nya sendiri. Di sana kayak kota mati, nggak ada apa-apa kecuali restoran china dan Walmart. Bisa mati gw tinggal disini, nggak tau gimana cara keluar dari sini. Perjalanan dari Meadville ke New York adalah yang paling melelahkan. Selain harus drove back to Philis, kita juga harus naik train. Di penginapan gw memutuskan untuk pergi ke United Nation Headquarter, padahal harusnya gw pergi ke Columbia University. Yah secara gw nggak punya interview appointment jadi lebih baik pergi ke UN Hq yang gw impi-impikan.

Wow! UN Hq was just right in front of my eyes. Gw masih inget gw ngeliat gedung ini di buku IPS terpadu kelas 5 SD. Gw selalu bercita-cita jadi Sekertaris Jendral PBB (kata orang-orang sih itu mimpi gila). Kantor Kofi Annan ada di lantai 17. Gw ikutan tur UN. Ada yang aneh, banyak sekali remaja-remaja seumuran gw yang berpakaian formal. Ternyata mereka adalah Model UN, perwakilan remaja-remaja dari seluruh dunia yang sekolah dan universitasnya terdaftar sebagai anggota Model UN. Huaaa jadi ngiri. Para model UN itu lagi pada ngadain sidang tahunan layaknya sidang PBB. Gw juga masuk ke ke ruang sidang dimana Sekjend, anggota veto power, dan anggota lainnya duduk berdiskusi. Ada ratusan bilik tergantung di sekeliling ruang sidang. Ternyata bilik-bilik itu tempat translator berbagai bahasa mentranslate sidang ke berbagai belahan dunia. Para negara duduk berdasarkan huruf abjad, setiap tahun diundi satu negara yang harus duduk di kursi bagian belakang. Waktu itu tahun 2006, Tajikistan kebagian duduk di belakang. Uniknya lagi, selama era perang dingin, Rusia masih bernama Uni Soviet dan harus duduk berdampingan bersama musuh bebuyutannya sendiri, United States hahaha. Gw perhatiin semua petunjuk di sana selain dituliskan dalam bahasa Inggris juga ditulis dalam bahasa Perancis. Isunya sih orang Perancis paling nggak mau pake bahasa Inggris. Menurut tourguide kelompok gw yang seorang Polish, budget tahunan UN sama besarnya dengan budget pemadam kebakaran unit kota New York! Waduh, malah di share se-dunia lagi. Katanya juga, tentara UN justru dateng dari negara-negara ke tiga seperti Srilangka dan Indonesia, sedangkan negara-negara maju lebih memilih menyumbangkan pasukannya untuk NATO. Idih.

Satu hal yang nggak pernah gw lupa lakukan sepanjang perjalanan adala shopping. Paling banyak sih merchandise college kayak coffee cup, keychain, bags. Tapi yang paling mahal adalah belanja di UN hQ, masak payungnya yang bermodal sablon UN dan Made in China pula dijual dengan harga $80, terus T-shirtnya juga mahal (mana sekarang kekecilan lagi), dan gw beliin bokap gw dasi UN. Tapi kata Brian, semua uang disini pasti akan disumbangkan untuk UN jadi ya relain aja deh. Sempet juga beli tote bag di St.Louis, Missouri waktu transit.

What a beautiful trip. I have known lots parts of United States and I am getting in love with America each day.

Mau tau nasib gw dengan universitas-universitas yang gw kunjungi ini? Baca blog gw selanjutnya.

1 Response to "Pecel Lele Rp 160.000 dan Sate Ayam Rp 90.000!"

perjalanan menarik..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.