The Egaliter’s Journal

Paris van Java, Es Goreng dan Mie Jawa

Posted by: Riska Mirzalina on: May 2, 2008

Siapa yang nggak kenal Paris van Java? (bukan nama yang dibuat pemerintah koloni dulu untuk Bandung yah). Paris van Java yang satu ini memang terletak di Bandung, tapi tempat yang satu ini adalah sebuah pusat shopping yang memadukan unsur walking shop dengan pemandangan terbuka. PVJ terdiri dari 3 lantai (2 lantai berada di basement). Lantai 1 banyak dipenuhi oleh tenant-tenant restorantyang area makanya di ruangan terbuka dengan taman serta udara yang sejuk dan juga dipenuhi oleh tenant-tenant pakaian bermerek. Lantai 2 lebih dipenuhi dengan toko-toko independent, restoran, dan pernak-pernik. Sedangkan lantai 3 berisi Carrefour dan tenant makanan kecil. Lantainya terbuat dari kayu-kayu yang ditata sedemikian rupa sehingga memberikan kesan welcome dan Sunda pisan…Terdapat beberapa tenant yang masih kosong namun ditutupi dengan backdrop yang keren-keren bertuliskan, “Paris van Java”, objek background foto-foto yang oke. Yang lebih oke adalah toiletnya yang unik. Toilet cewe dan cowo hanya dipisahkan oleh sebuah kolam ikan berisi ikan-ikan mas dan koi yang besar-besar, tanaman eceng gondok, guci plered antik yang menjadi tempat pancuran air, dan lukisan-lukisan penari Bali. Wuahh keliatan dong toilet cewe dam cowonya? Nggak. Karena bilik-bilik toilet dibuat agak menjorok ke dalam.

Gw dan cowo’ gw sempet makan es goreng di PVJ. Apakah itu es goreng? Ya es yang di goreng. Bedanya es ini dilapisi adonan kue sekelilingya, sehingga ketika dimasukan ke minyak selama kurang lebih satu menit, yang terasa kering hanya bagian luar adonan kue itu, esnya nggak cair. Harganya Rp 10,000 per cup. Gw beli yang strawberry, cowo’ gw beli yang coklat (tapi ujung-ujungnya tukeran). Rasanya rada-rada gurih awalnya, tapi es krimnya biasa-biasa aja. Kita juga sempet makan sushi groove (sushi melulu), tapi nggak duduk di area luar karena saat itu mataharinya sedang terik banget. Menjelang sore udaranya agak sejuk, ada seperti tangga-tangga menjorok ke cekungan kotak seperti kolam di bagian depan pelataran PVJ dan banyak yang pada duduk-dududk di situ. Ternyata itu bukan kolam, itu adalah lahan khusus untuk panggung. Tapi serius, pewe abis duduk-duduk di situ, apalagi sambil baca buku Mikroekonomi (loh?).

Sebelumnya gw dan cowok gw sempet main ke Dago dan BIP, makan mie ayam Rica-rica dan kwetiaw singapore (cowo’ gw lagi demen kwetiau nih). Nonton film barunya Tora Sudiro yang mengecewakan berjudul, “Namaku Dick”. Main ke Ciwalk dan nyari sepatu di Ciampelas. Terus main ke Metro Mal, mal tematik. Metro mal ini belum terlalu rame karena baru, yang unik adalah foodcourtnya yang berjudul “Kampung apa…. gitu. Food court disini nggak hanya berisi bangku-bangku saja, tapi ada saung-saung besar dan kecil lengkap dengan meja kayu kotak dan tiker. Dibawah saung-saung itu ada kolam ikan. Eleuhh ngeunah pisan lah…dan cowok gw lagi-lagi makan kwetiau di sana. Kita juga sempet nyobain Mie Jawa di ruko Metro Mal. Mienya enak dengan rasa jeruk nipis, bumbu sate dan lada yang kuat sehingga bikin kita kepedesan. Enak banget. Harganya cuma Rp 8,500 seporsi. Tapi karena pedesnya gw jadi curiga ini bukan Mie Jawa, melainkan Mie Padang (apa seh)

Bandung mah mantap lah…

1 Response to "Paris van Java, Es Goreng dan Mie Jawa"

wew, asik bgt ya toiletnya…kalo bisa ketemu cw trus jadian, romantis juga keknya. Apalagi kalo ada yg nanya:

A: Pertama kali kalian ketemu di mana?
B: di wc, waktu gw pengen boker

heuheuheu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.